PT Harlitama Agri Makmur: Akar Banjir Lumpur di Anggalomoare?

Dokumentasi warga banjir yang terjadi selama di tahun 2025

ANGGALOMOARE, KONSEL – Musim hujan seharusnya membawa berkah, namun bagi warga Desa Anggalomoare Jaya dan Anggalomoare di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, menjelma menjadi mimpi buruk tahunan.

Banjir lumpur pekat kini menjadi tamu tak diundang yang merenggut ketenangan, membasahi rumah, dan menyisakan janji-janji yang mengendap seperti lumpur itu sendiri.

Purwansyah, salah seorang warga Anggalomoare, tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya saat bercerita kepada awak media, Sabtu (14/6/2025).

“Setiap hujan lebat, desa kami selalu diterjang banjir. Airnya sangat kuning disertai lumpur,” ujarnya dengan nada putus asa.

Sebuah gambaran yang jauh berbeda dari masa lalu, ketika sungai masih mengalir jernih meski hujan deras melanda. Kini, yang tersisa hanyalah aliran kuning pekat yang membawa serta kekhawatiran.

Dugaan kuat mengarah pada aktivitas pembukaan lahan di pegunungan desa tetangga. Sejak kawasan tersebut dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit oleh perusahaan yang santer disebut PT Harlitama Agri Makmur (HAM), kondisi desa berubah drastis.

“Sejak gunung digusur untuk kebun sawit, debit air meningkat dan membawa lumpur dalam jumlah banyak. Banjir bisa menggenang di jalan raya. Kami benar-benar tidak nyaman dengan kondisi ini,” tambah Purwansyah, menyoroti dampak langsung dari perubahan lanskap.

Derita warga tak berhenti pada genangan di luar rumah. Lumpur yang terkandung dalam air banjir seringkali ikut menerobos masuk, mengotori setiap sudut rumah, dan memaksa warga untuk melakukan ritual bersih-bersih yang melelahkan setiap kali hujan deras mengguyur. Sebuah siklus tanpa henti yang menguras tenaga dan emosi.

“Kami sedih karena perusahaan yang kami duga jadi penyebab utama seolah tutup mata dan telinga. Tidak ada langkah nyata, hanya janji-janji yang tak kunjung ditepati,” keluhnya, menyuarakan kekecewaan terhadap pihak yang dianggap paling bertanggung jawab.

Harapan kini tertumpu pada pemerintah dan pihak terkait. Warga Anggalomoare mendesak agar ada penanganan serius dan solusi jangka panjang untuk bencana yang telah merenggut kenyamanan hidup mereka.

“Jangan tunggu sampai ada korban jiwa baru ada tindakan,” pungkas Purwansyah, sebuah peringatan keras agar tragedi yang lebih besar tidak terjadi sebelum ada intervensi nyata.

Banjir lumpur Anggalomoare bukan sekadar fenomena alam, melainkan cerminan janji yang tak tertepati dan kerentanan warga yang terus-menerus hidup dalam kecemasan.

Hingga berita ini diturunkan, awak media masih terus berupaya untuk melakukan klarifikasi ke Pihak perusahaan kelapa sawit PT Harlitama Agri Makmur sebagai bahan perimbangan pemberitaan

Penulis : Hasmar