Konawe  

Kampung Durian Konawe : Sulap Pekarangan Jadi Mesin Uang

Plt. Kabid Hortikultura DTPHP Konawe, M. Suknip (kanan)

KONAWE – Bayangkan sebuah masa depan di mana setiap jengkal tanah di samping rumah bukan sekadar lahan kosong, melainkan sumber pundi-pundi rupiah yang menggiurkan. Itulah mimpi besar yang sedang dirajut Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, melalui program “Kampung Tematik Durian”.

​Langkah ini bukan sekadar penghijauan biasa. Ini adalah strategi ekonomi kerakyatan yang menyasar langsung ke jantung kesejahteraan masyarakat rumah tangga petani. Di bawah visi Konawe Bersahaja dan selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, Yusran ingin menguatkan ketahanan pangan dari level yang paling dasar.

​”Kita ingin memberdayakan ekonomi masyarakat dari rumah ke rumah. Ini adalah upaya nyata kita untuk menekan angka kemiskinan melalui komoditas unggulan,” ujar Yusran saat ditemui di Unaaha, Jumat (26/12).

​Program ambisius ini telah mulai berakar di Kecamatan Latoma dan Padangguni sebagai proyek percontohan. Latoma dipilih dengan pertimbangan ekologis, selain dikenal sebagai sentra durian, pepohonan di sana berfungsi sebagai penyangga Daerah Aliran Sungai (DAS) Konaweha.

​Tak tanggung-tanggung, varietas yang ditanam adalah primadona pasar nasional Musang King dan Bawor. Sebanyak 12.170 bibit telah mulai didistribusikan. Polanya sederhana namun efektif; setiap warga menanam 3 hingga 8 pohon di pekarangan rumah mereka, tergantung luas lahan yang tersedia.

​Melihat potensi ekonominya, durian-durian ini bak “mesin uang” jangka panjang. Plt. Kabid Hortikultura DTPHP Konawe, M. Suknip, menjelaskan bahwa dalam 3,5 hingga 5 tahun, pohon-pohon ini akan mulai berbuah.

​Satu pohon dewasa diprediksi mampu menghasilkan 30 hingga 50 buah per musim. Dengan bobot mencapai 8–10 kg per buah dan harga pasar yang stabil, satu pohon bisa menyumbang pendapatan kotor sekitar Rp12 juta per musim.

​Jika dikalkulasikan secara total, saat seluruh bibit tersebut mencapai masa panen raya, potensi pendapatan kotor yang berputar di tingkat rumah tangga petani mencapai angka fantastis Rp146 miliar.

​Agar mimpi ini tidak layu sebelum berkembang, pemerintah tidak melepas petani sendirian. Para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dikerahkan untuk melakukan pengawalan ketat, mulai dari teknik pembenahan lahan hingga pemupukan NPK pasca-panen yang krusial bagi nutrisi tanaman.

​Hingga kini, ribuan pohon sudah tertanam kokoh di tanah Latoma dan Padangguni. Secara bertahap, program ini akan meluas ke lima kecamatan lainnya, yakni Abuki, Asinua, Tongauna, Tongauna Utara, dan Besulutu.

​Konawe kini sedang bersiap. Bukan hanya untuk menjadi lumbung pangan Sulawesi Tenggara, tapi juga untuk memastikan diri sebagai sentra durian unggul yang mampu mengubah wajah ekonomi setiap rumah tangga di dalamnya.

Penulis : Rada