Konawe, Sultra–Seorang warga bernama Asmawati blak-blakan membongkar dugaan praktik dugaan pungutan liar (pungli) yang disebut-sebut dilakukan oleh Lurah Wawonggole, Teku.
Tak tanggung-tanggung, sang lurah dituding menarik “biaya mediasi” sebesar Rp600 ribu yang berakhir tanpa kejelasan dan menyisakan kekecewaan mendalam bagi warganya.
Kisah ini bermula dari perselisihan sepele antara Asmawati dengan tetangganya. Ia berharap mendapatkan solusi damai, bersama iparnya, Risna, mendatangi kantor kelurahan untuk meminta fasilitasi. Namun, niat baik Asmawati justru berujung pada dugaan pemerasan.
“Saya ditelepon, katanya harus bayar Rp600 ribu. Saya tanya itu uang buat apa, dia bilang untuk beli kue dan amplop untuk perangkat yang hadir,” ujar Asmawati dengan nada geram, Minggu (13/7/2025).
Namun, realitas di lapangan jauh dari harapan. Saat mediasi berlangsung, Asmawati hanya melihat lima botol air mineral tersaji tanpa makanan atau jamuan lain yang dijanjikan. Lebih parah lagi, proses mediasi itu sendiri dinilai mandul.
“Yang hadir tokoh adat, RW, tapi tidak diberi ruang bicara. Surat pernyataan yang seharusnya dibahas bersama malah dibawa pulang oleh lurah. Apa seperti itu pelayanan publik?” cecar Asmawati, mempertanyakan integritas pelayanan di kelurahan tersebut.
Tak berhenti di situ, Asmawati juga mengungkap dugaan praktik janggal lain yang konon sudah menjadi “rahasia umum” di Kelurahan Wawonggole. Ia mencontohkan adanya permintaan uang saat pengurusan surat kematian warga.
“Ada warga yang meninggal, tapi katanya harus ada amplop kalau mau ditandatangani surat keterangannya,” bebernya.
Menurut Asmawati, keresahan ini bukan hanya miliknya seorang. Banyak warga lain yang disebut-sebut sudah muak dengan gaya kepemimpinan lurah saat ini.
“Sudah banyak kejadian. Masyarakat resah. Pemerintahan kelurahan ini sudah tidak nyaman lagi dirasakan warganya,” tegasnya.
Warga pun kini menggantungkan harapan besar kepada pihak kecamatan dan pemerintah kabupaten. Mereka mendesak agar dugaan penyimpangan ini segera ditelusuri dan kinerja Lurah Wawonggole dievaluasi total.
Tujuannya tak lain adalah demi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan benar-benar berpihak kepada rakyat.
Ditemui terpisah di kediamannya, Lurah Wawonggole, Teku, membenarkan adanya permintaan uang Rp600 ribu tersebut.
“Memang saya meminta untuk disiapkan, tapi saya tidak memaksa. Dan itu dipakai untuk keperluan mediasi,” kilahnya singkat.
Penulis : Hasmar




