KENDARI, Sultra — Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara memberikan penghargaan kepada 10 daerah yang dinilai memiliki kesiapsiagaan tinggi dalam penanggulangan bencana. Penghargaan tersebut diserahkan pada kegiatan Apel Siaga dan Simulasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami 2025 yang berlangsung di Lapangan Kantor Gubernur Sultra, Kelurahan Andonohu, Kecamatan Poasia, Senin, 24 November 2025.
Dari total 17 kabupaten/kota di Sultra, hanya 10 daerah yang memenuhi kriteria ketanggapan bencana. Kabupaten Konawe menjadi salah satu penerima penghargaan, yang diterima langsung oleh Wakil Bupati Konawe, H. Syamsul Ibrahim, SE, M.Si. Penilaian difokuskan pada pembentukan dan penguatan Relawan Desa Tanggap Bencana (Destana) di masing-masing wilayah.
Gubernur: Kesiapsiagaan Adalah Kunci Keselamatan
Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, S.E., M.M., menegaskan bahwa kesiapsiagaan merupakan elemen utama dalam melindungi masyarakat dari risiko bencana, terlebih karena Sultra berada pada zona rawan gempa dan tsunami.

Ia menjelaskan bahwa apel siaga dan simulasi yang digelar dalam rangka Jambore Tanggap Bencana merupakan langkah konkret pemerintah dalam memperkuat fase pra-bencana guna meminimalkan dampak apabila bencana terjadi. Gubernur juga menyinggung Kajian Risiko Bencana 2022–2026, yang menunjukkan bahwa tingkat kerentanan Sultra cukup tinggi akibat pertemuan beberapa lempeng aktif.
Selain itu, ia menginstruksikan seluruh kepala daerah untuk menyiapkan anggaran tanggap bencana dalam APBD 2026, merespons meningkatnya ancaman seperti tsunami, banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor berdasarkan data ilmiah BMKG.
Wakil Bupati Konawe: Penghargaan Jadi Motivasi Perkuat Relawan
Wakil Bupati Konawe, H. Syamsul Ibrahim, menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diterima Konawe bersama sejumlah daerah lainnya, Ia menegaskan bahwa keberadaan relawan Destana merupakan garda terdepan ketika bencana terjadi.

“Relawan-relawan ini memiliki tugas dan tanggung jawab ketika terjadi bencana di wilayah masing-masing,” ujarnya.
Syamsul menambahkan bahwa pemerintah Kabupaten Konawe akan terus memperkuat koordinasi lintas sektor agar penanganan kebencanaan dapat berjalan cepat, tepat, dan terarah.
Konawe Fokuskan Mitigasi di Wilayah Pesisir
Lebih lanjut, Syamsul mengungkapkan bahwa BPBD Konawe bersama perangkat daerah terkait telah menyusun rencana penguatan mitigasi, termasuk kemungkinan pelaksanaan simulasi tanggap bencana pada akhir tahun. Fokus utama diarahkan ke wilayah pesisir yang memiliki tingkat kerentanan tinggi, meliputi:
Kecamatan Kapoiala, Kawasan terdampak abrasi di sekitar perbatasan Muara Sampara, Permukiman di sepanjang pesisir sungai

Ia menjelaskan bahwa seluruh desa di Konawe telah memiliki Relawan Tanggap Bencana, sementara pembentukan relawan di tingkat kelurahan masih dalam proses.
“Sudah terbentuk relawan di semua desa, tinggal kelurahan saja. Ini akan dilanjutkan sesuai kemampuan keuangan daerah,” kata Syamsul.
Simulasi Gempa dan Tsunami Tutup Rangkaian Jambore
Rangkaian Jambore Tanggap Bencana 2025 ditutup dengan simulasi gempa bumi dan tsunami yang melibatkan BPBD, instansi pemerintah, TNI–Polri, relawan, serta masyarakat. Simulasi tersebut memperagakan alur evakuasi, mekanisme koordinasi lintas sektor, dan respons darurat sesuai skenario bencana besar yang dipusatkan di kawasan Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara.
Penulis : Rhony LT




