Sumpah Pemuda, Era digital dan Petani Millenial

7241

Oleh ; Surachman, Dekan Fakultas Teknik ITBKM Muhammadiyah Muna Barat

Rumah di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta menjadi saksi bisu pergulatan pemikiran para pemuda 95 tahun yang lalu dalam memproklamirkan Sumpah Pemuda. Pemiliknya adalah Sie Kong Liang. Sejak 1925 rumah itu dijadikan tempat indekos bagi mahasiswa Jong Java, baru ditahun 1927-an ditempati mahasiswa dari berbagai daerah.

Banyak dari tokoh pemuda yang mencetuskan sumpah pemuda indekos dirumah itu diantaranya Moh. Yamin dan Amir Sjarifuddin. Moh. Yamin dikenal sebagai salah satu perumus dasar negara dalam sidang BPUPKI dan anggota panitia sembilan. Sedang Amir Syarifuddin pernah menjadi Perdana Menteri di era revolusi kemerdekaan.

Kisah Yamin dan Amir seperti dipersimpangan jalan. Yamin bernasib untung dan mendapatkan penghargaan dari negara sebagai Pahlawan Nasional. Sedang Amir bernasib buntung, Madiun Affair 1948 yang menjadi pemicunya. Amir dicap sebagai salah satu dalang dalam peristiwa Madiun bersama Musso dan pada akhirnya perjalanan hidupnya berakhir ditengah malam 19 Desember 1948, di Ngalihan, Karanganyar Solo. Amir bersama 10 rekannya dieksekusi mati oleh tentara setelah tertangkap sebulan sebelumnya.

Pergulatan pemikiran Moh. Yamin, Amir Syarifuddin dan beberapa tokoh pemuda lain dalam momentum sumpah pemuda 1928 tak seketika muncul begitu saja. Ada alasan fundamental yang melatarbelakanginya yakni adanya fakta kegagalan pemuda dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Kegagalan itu ditengarai akibat perjuangan para pemuda masih bersifat kedaerahan, dibatasi oleh sekat suku dan wilayah.

Menyadari kegagalan itu dan semakin memuncaknya semangat nasionalisme para pemuda, maka pemuda dari pelbagai daerah mulai mengorganisir diri. Dimulai tahun 1926 Kongres Pemuda I dilaksanakan. Dua tahun kemudian diselenggarakan Kongres Pemuda II pada tanggal 27 hingga 28 Oktober 1928.

Pada Kongres Pemuda II ini lah, lahir ikrar sumpah pemuda seperti yang kita kenal hingga saat ini, :” Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia, Berbangsa satu, bangsa Indonesia, Berbahasa satu, bahasa Indonesia.”

Sumpah Pemuda 1928 juga menjadi titik awal Bendera merah putih diperkenalkan sebagai bendera Indonesia dan lagu Indonesia Raya karya WR Supratman sebagai lagu kebangsaan Indonesia

Peristiwa Sumpah Pemuda 1928 merupakan kristalisasi semangat para pemuda dalam mewujudkan Indonesia merdeka, yang juga dapat dikatakan sebagai salah satu pra kondisi atau sine qua non peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945 oleh Soekarno-Hatta.

Kesadaran akan “KeIndonesiaan” sejak 1928 itu lah yang merawat elan vital perjuangan para pemuda dalam mewujudkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia setelah sebelumnya di “culik” oleh para pemuda yang dikenal sebagai peristiwa Rengas Dengklok. Suatu peristiwa ketika beberapa pemuda diantaranya Chairul Saleh, Djohar Nur, Kusnandar, Subadio, Subianto, Margono, Wikana (Kaigun), Armansyah (Kaigun), Yusuf Kunto, dr. Muwardi (Barisan Pelopor), dan Shodanco Singgih (Peta Jakarta) membawa Soekarno dan Hatta di Rengasdengklok untuk meminta mereka berdua mempercepat proklamasi kemerdekaan.

Tanpa adanya gerakan pemuda sebagai pelopor dan inisiator dalam mewujudkan Indonesia Merdeka, mustahil Indonesia dapat berdiri tegak seperti saat ini. Peran kepeloporan pemuda sangat memainkan peran penting dalam meneguhkan jiwa nasionalisme Indonesia pada benak dan sanubari setiap anak bangsa.

Pemuda tak hanya sebagai inisiator, juga sebagai katalisator dan eksekutor dalam mewujudkan negara bangsa Indonesia. Dapat dibayangkan jika pemuda tak mengambil peran dalam mewujudkan negara bangsa Indonesia, mungkin Indonesia hanya akan menjadi angan angan semata.

Tak ada gerakan keIndonesiaan yang tak lepas dari peran pemuda didalamnya. Sejak sumpah pemuda 1928, proklamasi kemerdekaan 1945, gerakan mahasiswa 1966, dan gerakan reformasi 1998, pemuda selalu mengambil peran sebagai prime mover (penggerak utama).

Pemuda dalam sejarah peradaban bangsa adalah tonggak bagi kemajuan dan pembangunan suatu bangsa. Pemuda adalah asset berharga. Maju dan mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kontribusi para pemudanya.

Diera dewasa ini, peran pemuda tak lagi diperhadapkan dengan upaya mewujudkan kemerdekaan, namun lebih pada mengambil bagian dalam mengisi kemerdekaan. Di era ini pemuda diharapkan dapat beradaptasi dengan adanya kemajuan zaman khususnya kemajuan ilmu teknologi dan pengetahuan yang sangat pesat.

Pemuda Indonesia haruslah mampu beradaptasi dengan gelombang pertama digitalisasi atau Revolusi industri 4.0 saat ini, yang ditandai dengan adanya perkembangan yang pesat di dunia IT seperti otomasi, analisis big data, teknologi robot, artificial intelligence (AI), hingga internet of things (IoT).

Perkembangan teknologi digital haruslah digerakkan oleh ide kreatif dan brilian para pemuda. Tak hanya di kota, juga sampai di pelosok desa. Apalagi saat ini gadget bukan lah hal yang asing bagi pemuda, rasa rasanya sangat jarang pemuda yang tak dapat mengakses gawai.

Era pandemi covid 19 semakin mendekatkan pemuda dengan ruang digital tak hanya soal akses pendidikan, juga menyentuh pada pengembangan UMKM. Para pelaku UMKM yang notabene banyak digerakkan oleh para pemuda dapat ditopang pemasarannya melalui teknologi digital.

Peran pemuda dalam meningkatkan melek digital masyarakat sangat dibutuhkan utamanya dalam mentransformasi proses pertumbuhan di semua lini bangsa ini dengan dibarengi penguatan nilai-nilai kebangsaan.

Nilai-nilai kebangsaan berfungsi sebagai jangkar agar dengan meningkatnya melek digital dikalangan pemuda tak membuat mereka tercerabut dari akar keIndonesiaannya. Apalagi dunia digital semakin membuat negara seolah tanpa batas (borderless). Jika tanpa ditopang oleh internalisasi nilai kebangsaan dalam jiwa setiap pemuda, maka perkembangan dunia digital akan semakin membuat para pemuda terasing dari bangsanya sendiri, dan akhirnya tak mencintai tumpah darahnya, sesuatu yang sangat berharga dan telah menimbulkan pengorbanan jiwa dan raga, harta benda yang tak sedikit dari para pendahulu kita.

Bonus demografi yang terjadi di Indonesia saat ini dapat menjadi modal utama. Namun dapat pula menjadi sumber masalah. Data kajian riset CNBC Indonesia menunjukkan tingkat pengangguran pemuda berusia 15-30 tahun rata-rata 14,1 % dibanding pengangguran semua umur 5,8 % sejak 2015 sampai 2022. Selain itu proporsi usia pengangguran pada tahun 2022 sebesar 7,99 juta, didominasi oleh usia anak muda 15 – 24 tahun sebesar 46 % sementara usia 25 – 59 tahun sebesar 23 %.

Data diatas dapat menunjukkan adanya peluang bagi pemuda untuk mengisi peluang kemajuan sektor digital sebagai sumber pekerjaan. Namun disisi lain juga dapat menjebak para pemuda dalam pemanfaatan dunia digital yang negatif, seperti judi online, prostitusi online, flexing, dan penipuan. Kemajuan digital dapat disalahgunakan oleh para pemuda dan dijadikan sebagai sumber penghasilan sekalipun itu menyalahi norma hukum dan budaya bangsa ini. Kemajuan teknologi tanpa dilandasi oleh fondasi akhlak dan nilai kebangsaan hanya akan melahirkan generasi yang oportunis dan gemar mencari jalan “pintas” dan dapat menghalalkan segala cara.

Untuk itu tantangan terberat bagi generasi muda saat ini adalah menyiapkan diri sebaik baiknya dengan skill dan fondasi ekonomi sektor real. Sarana digital hanyalah sebagai alat untuk percepatan fundamen ekonomi, membantu memperluas networking dan akses informasi pasar.

Pemuda jangan lagi menjadi generasi “tiktokers” semata, mencari cuan dari itu saja. Lirik lah desa dengan segala potensinya. Lahan yang masih terbentang luas, membutuhkan sentuhan tangan tangan dingin petani millenial.

Petani millenial itu akan menjadi jawaban atas rendahnya daya serap pasar akan tenaga kerja profesional. Para pemuda dapat mengambil peran strategis mengisi sektor produksi mulai dari hulu, di Desa sampai hilir di Kota.

Jika para pemuda tak mengisi sektor pertanian, maka bangsa ini akan kekurangan pangan suatu saat nanti, yang pada akhirnya akan melemahkan sumber daya manusia Indonesia.

Jika itu terjadi, niscaya Soekarno “tak dapat lagi mengguncang dunia dengan 10 orang pemudanya”. Karena pemuda yang dapat mengguncang dunia hanya bagi mereka yang unggul, memiliki kualitas dan visi besar bagi bangsanya. Selamat Sumpah Pemuda ke 95. Go A Head Pemuda Indonesia.

Artikulli paraprakKolaborasi Kadin dan Kemenkumham Sultra, Buka Peluang Bagi 500 Mahasiswa Dapatkan Legalitas Berusaha Gratis
Artikulli tjetërPj. Bupati Konawe Buka Turnamen Sepak Bola Antar Desa di Kecamatan Tongauna Utara

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini