Lebaran “Politik”

2537

Oleh ; Surachman, ST, Dekan Fakultas Teknik Institut Teknologi Bisnis dan Kesehatan Muhammadiyah Muna Barat

Tahun ini seharusnya akan sangat baik bagi kita segenap anak bangsa untuk kembali merelaksasi seluruh jaringan saraf yang ada pada diri kita masing masing setelah hiruk pikuk politik yang membuat hubungan sosial merenggang akibat pilihan pilihan politik yang mungkin berbeda.

Bagi para kontestan politik yang beruntung mendapat kursi dapat menjadikan momen ramadhan kali ini sebagai momen halal bihalal bersama pendukungnya, merayakan idul fitri dalam suasana keakraban atau minimal sudah mengundang dalam agenda buka bersama para relawan/simpatisan.

Namun bagi mereka yang gagal, momen ini menjadi momen yang tepat untuk berkontemplasi, bertafakur merenungi musabab kegagalannya, menemukan hikmah dibalik ini semua sembari mencoba membuka pintu maaf kepada konstituen yang mungkin tak amanah dalam menerima serangan “fajar” yang telah tersalurkan.

Ruwetnya silang sengkarut politik idealnya mendingin dalam momen ramadhan kali ini, di akar rumput tak ada lagi perang antara “cebong dan kampret”. Dua fenomena polarisasi politik yang terjadi pasca pertarungan Jokowi dan Prabowo pada pilpres yang lalu.

Sekalipun saat ini isu “new orba” kembali menyeruak yang ditandai oleh isu dinasti politik dan isu peran massif penguasa namun baiknya tak ada lagi polarisasi yang sangat tajam seperti pilpres sebelumnya. Diskursus soal itu hanya ada dikalangan elit politik, diakar rumput sepanjang beras bansos lancar mengalir, bantuan pemerintah lainnya setiap bulannya masuk berbunyi di rekening..Isu isu elitis soal demokrasi menguap entah kemana dalam benak rakyat.

Lebaran kali ini harusnya menjadi perekat simpul simpul terkoyak akibat politik. Tapi…. kita pun harus siap setelah lebaran ini…mesin politik sudah mulai lagi dipanaskan menyambut Pilkada serentak dibulan november, 8 bulan kedepan.

Rasa rasanya rakyat hanya akan mendingin sejenak setelah lebaran berlalu, pasca lebaran para politisi akan mulai menarik narik rakyat dalam kutub kutub yang berbeda, mulai menginjak pedal Gas sembari berucap ” Gas Abangku”.

Hari hari kedepan energi rakyat akan banyak tersita oleh pelbagai pertemuan politik. Apalagi momen pilkada serentak ini dilaksanakan diseluruh Indonesia, pusat pertarungannya tak lagi di Jakarta tapi episentrumnya di Provinsi dan Kabupaten yang tentu vibrasinya akan langsung sampai ke akar rumput, isunya pun tak lagi soal isu nasional semata namun isu lokal remeh temeh pun akan menjadi mainan renyah para prajurit medsos dalam memperjuangkan kandidatnya masing masing.

Ramadhan kali ini harusnya menjadi pusat latihan kita dalam mengendalikan hawa nafsu, dan menjadi fitri seperti layaknya bayi yang baru terlahir didunia. Rentang 8 bulan kedepan seyogyanya bekal “kesucian” pasca idul fitri masih tersisa, untuk menjadi alat kontrol para politisi dan konstituennya dalam berpolitik secara santun dan beradab.

Bekal idul fitri semoga dapat menekan money politik, ujaran kebencian atau kekerasan politik dalam masa kampanye sampai hari pencoblosan. Bekal idul fitri yang tersisa menjadi penjaga lisan bagi rakyat atau bagi politisi yang memakai prinsip menghalalkan segala cara alias gaya Machiaveli.

Tapi saya pun sanksi, rasa rasanya hanya segelintir orang yang akan seperti itu. Sekalipun namanya etika politik itu secara teoritis ada. Namun faktanya menemukan etika politik dizaman saat ini seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Sekalipun etika politik itu menjadi code of conduct. Dasar yang musti dipijak oleh para politisi, namun karena syahwat kekuasaan yang demikian besar maka etika politik itu jamaknya dipinggirkan secara sadar. Sehingga praktik praktik politik hitam tak dianggap tabuh lagi.

Padahal output dari suatu politik itu membutuhkan legitimasi. Dan legitimasi itu haruslah diletakan pada pondasi norma dan etika politik yang kokoh agar hasilnya dapat diterima oleh semua dengan lapang dada.

Mungkinkah etika politik itu akan menjadi guideline dalam pilkada serentak nanti?. Kita dapat memilih itu secara sadar untuk mengedepankannya atau meninggalkannya. Jika politik itu adalah the art of the possible”, seni kemungkinan. Maka seyogyanya peran politik yang dimainkan tak lagi main kayu, grusa grusu, dan mengaduk kewarasan rakyat.

Biarkan lah rakyat menikmati pertunjukan politik itu seperti gandrungnya rakyat menonton layar tancap atau sinetron dilayar kaca.

Tapi mungkin kah itu terjadi, semoga momen lebaran ini menyadarkan kita semua.

Selamal Idul Fitri 1 Syawal 1445 H, Mohon maaf lahir dan batin

Artikulli paraprakDesa Mumundowu Salurkan BLT DD Kepada 26 KPM
Artikulli tjetërPj. Bupati Tunjuk KPA, Kadinkes Anggap Keliru, Kabag Hukum ; “Ini kan lucu”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini