Peran Alumni Perguruan Tinggi Dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045

7097

Oleh ; Eko Setiadi Prasadhana,

Alumnus ITS / Profesional di sektor energi

Forum Alumni Perguruan Tinggi se-Indonesia mengungkapkan dukungannya kepada Ganjar Pranowo untuk menjadi Presiden Indonesia di pemilu mendatang. Dukungan ini disampaikan dalam kegiatan bertajuk ‘Ganjar Menjawab Tantangan Masa Depan Indonesia’ (17/09/2023). Acara yang diadakan di The Ballroom Djakarta Theater ini dihadiri oleh ribuan alumni dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.

Sutopo Kristanto, alumni ITS yang hadir, menilai gagasan yang disampaikan Ganjar cukup menarik untuk menjadikan Indonesia lebih maju dan sejahtera. Hal tersebut dapat menjadi pedoman ketika Ganjar menjadi Presiden Indonesia periode 2024-2029. Ganjar Pranowo menyodorkan 7 agenda utama membangun Indonesia Masa Depan.

Pertama, membangun sumber daya manusia yang produktif melalui akses pendidikan seluas-luasnya. Diharapkan angka pengangguran bisa ditekan sampai 4% di tahun 2029. Kedua, menjaga stabilitas harga bahan-bahan pokok melalui kinerja birokrasi untuk memantau ketersediaan suplai dan permintaan, menggenjot sentra produksi bahan pokok, dan menyeimbangkan neraca ekspor-impor pangan. Ketiga, Pengentasan kemiskinan lewat intervensi program pemerintah dengan fokus pada investasi keluarga. Keempat, memperkuat jaringan pengaman sosial.

Kelima, mendorong hilirisasi menuju kelas dunia melalui akselerasi berbagai sektor penopang pertumbuhan PDB, seperti pertanian, perkebunan, pertambangan, industri pengolahan, transportasi dan ekonomi digital. Keenam, akselerasi nilai tambah pembangunan infrastruktur, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah. Ketujuh, memulihkan kondisi alam Indonesia melalui pertumbuhan yang selaras dengan daya dukung lingkungan, seperti mengurangi emisi karbon, mencetak talenta untuk inovasi, serta mendorong ekonomi hijau dan ekonomi biru.

Bacapres Prabowo Subianto pun sudah mencanangkan programnya yang terangkum dalam “Program Best Results Fast 2024-2029”, melalui ketahanan pangan, ketahanan energi, ketahanan air, pengentasan kemiskinan, kesehatan dan farmasi. Prabowo menekankan pentingnya kemajuan pendidikan, sains dan teknologi, pertahanan, industrialisasi, reformasi politik, hukum dan birokrasi, serta transformasi keuangan negara.

Bacapres Anies Baswedan telah menunjuk lembaga Strategic Policy Institute for Indonesia untuk membantu merancang visi misi dan programnya. Co-founder Strategic Policy Institute for Indonesia, Wijayanto Samirin, menyebutkan bahwa visi, misi, dan strategi Anies Baswedan dapat disampaikan dalam tiga kata, kesejahteraan. keadilan, dan kemajuan yang berkelanjutan.

Tantangan Indonesia

Majalah The Economist (29/3/2023), menyebut Indonesia dan India tengah bersaing menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi paling cepat dalam kelompok G20. Menariknya, dinamika ini terjadi di tengah perubahan konstelasi perekonomian global sebagai implikasi dari fragmentasi geopolitik. Selain faktor eksternal seperti ketidakpastian ekonomi global dan ketegangan geopolitik, Indonesia masih dihadapkan pada sederet masalah dan tantangan internal yang kompleks dan harus diselesaikan dengan strategi serta pendekatan yang komprehensif.

Untuk menjadi negara maju, Indonesia harus mendorong industri yang memiliki kompleksitas ekonomi tinggi melalui besarnya nilai tambah yang dihasilkan. Upaya itu sangat tergantung pada integrasi sumber daya, kapabilitas eksisting industri, dukungan regulasi dan kemudahan investasi.

The Observatory of Economic Complexity (OEC) merilis laporan untuk tahun 2021 yang menunjukkan kompleksitas ekonomi perdagangan Indonesia pada peringkat 61 dari 131 negara, kompleksitas ekonomi teknologi di peringkat 63 dari 96 negara, dan kompleksitas ekonomi riset di peringkat 57 dari 140 negara. Indonesia harus mampu mendiversifikasi industri untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dan GDP per kapita.

Indonesia juga masih dihadapkan pada rendahnya indeks pembangunan manusia (IPM). Saat ini skor IPM baru mencapai 0,7 dari target minimum 0,8 di peringkat 130 dari 199 negara. Sehingga sangat dibutuhkan sinergi lintas sektoral untuk meningkatkan angka harapan hidup, akses kesehatan, pendidikan dan standar hidup yang layak.

Tantangan fundamental berikutnya adalah bagaimana mengatasi kesenjangan antar wilayah, mengingat kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau yang merentang sepanjang 5.000 km. Kesenjangan antara Jawa dan luar Pulau Jawa, antara perkotaan dan perdesaan, dan berbagai daerah tertinggal yang berada di perbatasan, pesisir dan pulau-pulau terpencil. Strategi peningkatan konektivitas dan aksesibilitas melalui pembangunan infrastruktur dan berbagai pusat pertumbuhan regional khususnya di luar Jawa harus dilanjutkan.

Peran Strategis Alumni dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045

Perhelatan pilpres 2024, idealnya bukanlah hanya sekedar kompetisi meraih kekuasaan yang sifatnya jangka pendek. Kepemimpinan nasional yang kuat dibutuhkan untuk melanjutkan pembangunan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi Negara-Negara Maju (OECD), memperkirakan bahwa pada tahun 2045 ekonomi Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-4 di dunia. Prediksi tersebut selaras dengan bonus demografi dengan kualitas SDM yang tinggi, struktur ekonomi yang kuat, sehingga Indonesia menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita dan keluar dari middle income trap.

Namun untuk mewujudkan visi Indonesia Emas juga bukan hal yang mudah. Indonesia harus mampu mengatasi tantangan global yang disebut Megatrend 2045 berupa demografi dunia, urbanisasi global, perdagangan internasional, keuangan, persaingan sumber daya alam, perubahan iklim, kemajuan teknologi, perubahan geopolitik dan perubahan geoekonomi. Lulusan perguruan tinggi dinilai mencerminkan individu yang berkualitas.

Dengan banyaknya alumni perguruan tinggi memiliki posisi strategis, baik di sektor pemerintahan, politik, usaha dan dunia professional, dan termasuk diaspora dengan jejaring internasional tentu kontribusinya akan lebih optimal dalam keberlanjutan pembangunan nasional.

Alumni juga punya peran strategis dalam mendorong penguatan riset, inovasi dan sebagai katalisator pendidikan dan industri. Begitu juga jejaring alumni dengan keahlian di berbagai industri, khususnya sektor pertanian, perkebunan dan maritim diharapkan berkontribusi meningkatkan pendapatan pelaku usaha dan pekerja di sektor yang masih menjadi tumpuan sebagian besar masyarakat.

Untuk mengatasi kesenjangan antar wilayah, terwujudnya pemerataan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi di daerah, jejaring alumni dapat berperan dalam merumuskan berbagai kebijakan dan sinkronisasi regulasi pemerintah pusat dan daerah.

Artikulli paraprakPengurus Apdesi Konawe Segera Dilantik
Artikulli tjetërNaik Status, RSUD Kota Kendari Bakal Menambah Jumlah Layanan Kesehatan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini